Kisah Pengemis yang #CintaRupiah

Cinta Rupiah – Akhir-akhir ini, media massa kembali dihebohkan dengan cerita tertangkapnya seorang pengemis wanita yang setelah diperiksa ternyata memiliki uang tunai puluhan juta rupiah. Uang tersebut ditengarai merupakan hasil praktek mengemisnya selama beberapa tahun.
Sebelumnya di tahun 2016, seorang kakek terjaring operasi gepeng di wilayah Pancoran-Jakarta Selatan. Operasi yang dilakukan oleh petugas suku dinas sosial ini mendapati sang kakek membawa uang tunai sebesar 25 juta yang menurut pengakuannya merupakan hasil penjualan ternak sapi di kampung.

Namun petugas tak begitu saja percaya, sebab berdasarkan pengamatan mereka penghasilan seorang pengemis ternyata jauh di atas rata-rata UMR buruh. Walaupun menurut pengakuan si pengemis, mereka hanya mampu mengumpulkan seratus hingga dua ratus ribu sehari. Dengan jumlah demikian, jika setiap hari mereka mengemis maka penghasilan mereka dapat mencapai angka tiga juta hingga enam juta rupiah. Sebuah angka yang menggiurkan tentunya.

Bahkan di kota Semarang pernah dijumpai seorang pengemis memiliki deposito senilai Rp 140 juta serta tabungan di bank sebesar Rp 40 juta. Itu belum termasuk BKPB 3 buah motor, sertifikat tanah serta uang tunai yang dibawanya. Sebuah angka fantastis yang sangat mencengangkan.

Tak aneh memang, kasus seperti ini akan sering terjadi jika kegiatan mengemis di jalanan tetap dibiarkan dan masyarakat juga tetap iklas memberi sedekah kepada pengemis-pengemis ini. Walaupun bagi si pemberi uang itu hanya berupa recehan, namun jika dikumpulkan dalam kurun waktu lama oleh si pengemis, tentu akan menjadi bukit uang receh juga.

Ada beberapa pengemis yang memiliki rumah cukup mewah di kampung, bahkan mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang Perguruan Tinggi. Di beberapa daerah yang ditengarai sebagai daerah pemasok pengemis, kegiatan mengemis ternyata sudah dilakukan secara turun temurun, bak sebuah tradisi. Bukan tanpa alasan mereka mengemis, rata-rata karena tanah di daerah mereka tidak subur sehingga sulit ditanami, serta tidak adanya lapangan pekerjaan yang dapat dilakukan di desa, menyebabkan mereka berbondong-bondong mengemis ke kota.

Ya, ternyata dengan mengemis mereka merasa dapat meningkatkan kesejahteraan hidup. Dengan mengumpulkan recehan rupiah, mereka dapat melanjutkan kehidupan dengan lebih baik. Jika ditanya, tentunya mereka akan mengaku “Kami Sangat Cinta Rupiah”

 

foto kompasiana

(Visited 73 times, 1 visits today)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *