Menumbuhkan #CintaRupiah di Perbatasan

Cinta Rupiah –  Penggunaan mata uang asing di daerah perbatasan masih merupakan hal yang lumrah terjadi. Ada berbagai macam faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Ketersediaan dan perputaran uang yang minim berujung pada rendahnya kesadaran masyarakat untuk tetap menggunakan rupiah. Transaksi-transaksi perdagangan masyarakat Indonesia menggunakan rupiah di daerah perbatasan dengan Malaysia, Papua New Guinea, hingga Timor Leste nyaris minim. Nilai rupiah menjadi lebih rendah di daerah perbatasan karena kurs mata uang asing lebih tinggi dan mudah didapatkan.
Beberapa kasus yang pernah terjadi diantaranya di Atambua, perbatasan Indonesia-Timor Leste. Di daerah perbatasan tersebut mata uang dolar Amerika Serikat (AS) lebih banyak digunakan untuk transaksi jual beli daripada rupiah. Mata uang Kina Papua New Guinea (PNG) sudah lama menjadi alat transaksi perdagangan warga PNG yang berbelanja di wilayah perbatasan Indonesia-PNG. Hal yang sama pun terjadi sebaliknya bagi warga Indonesia yang berbelanja di wilayah PNG memakai mata uang Kina. Bagi para pedagang pasar di Indonesia, penggunaan mata uang Kina dalam transaksi perdagangan di wilayah perbatasan kedua negara menguntungkan mereka dan sudah menjadi hal biasa. Setidaknya mereka bisa mendapatkan keuntungan dari selisih kurs jual dan beli dari mata uang Kina terhadap rupiah.

Hal yang sama juga terjadi di wilayah Entikong, bagian Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Di wilayah ini lebih banyak menggunakan ringgit (Malaysia) dibandingkan dengan rupiah. Rasa cinta rupiah sangat rendah dan minim di daerah perbatasan. Hal ini bukan hanya disebabkan oleh rendahnya kesadaran penduduk semata, namun juga keadaan daerah perbatasan yang memang terbatas akses dan ketersediaan rupiah itu sendiri. Jadi untuk menumbuhkan cinta rupiah tidak hanya bertumpu pada masyarakat, namun dengan adanya kerjasama dengan berbagai macam pihak seperti pemerintah daerah, masyarakat yang sudah teredukasi mengenai cinta rupiah dan bank Indonesia sebagai pemasok rupiah.

Langkah-langkah yang bisa dilakukan diantaranya adalah memasok rupiah ke perbatasan dengan bekerja sama dengan instansi di daerah seperti bank swasta, mengawasi peredaran uang asing, membuka tempat penukaran uang, membangun infrastruktur e-money, mengdukasi msyarakat untuk cinta rupiah dan mengenali uang palsu. Penggunaan e-money memang mebutuhkan sarana dan prasarana yang lengkap, namun bukan hal yang tidak mungkin untuk dijalankan di masa yang akan datang.

Penggunaan e-money juga lebih praktis dan tetap bisa berjalan meski pasokan rupiah terbatas. Sosialisasi bisa dilakukan oleh BI langsung atau oleh masyarakat yang sudah teredukasi untuk cinta rupiah seperti pelajar yang memberikan sosialisasi di rumah masing-masing, guru yang memberikan sosialisasi di sekolah atau juga bisa memanfaatkan organisasi sosial yang berada di daerah pelosok. Dengan adanya sinergi dari berbagai pihak, rupiah bisa semakin berjaya dan dicinta di negeri sendiri.

 

Foto Tribun Pontianak

(Visited 99 times, 1 visits today)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *